Aku sendiri bermain dengan kucing yang diberi nama Megatron. Entah siapa yang memberi nama tersebut. Bulunya yang berwarna abu-abu, hitam, dan putih itu sangat lembut. Aku mengelus tubuhnya. Ia duduk di sampingku sambil menatap wajahku. Aku hanya bisa melihat megatron yang ada di dekatku karena aku lupa memakai kacamataku. Hal ini membuatku tidak bisa melihat dengan jelas orang-orang sekitarku.
Teman satu eskulku mendekatiku, lalu mengajakku mengobrol bersama. Ia memakan sepotong biskuit coklat dan membagikannya ke megatron. Agak sedikit aneh. Kucing biasa yang suka makan makanan berbau amis, kini suka makan biskuit. Megatron sangat suka biskuit ini. Aku bersandar di dinding bawah tangga sambil memberi makan megatron.
Tepat pukul dua siang, ketua acara penampilan eskul-eskul sekolah-- biasa disebut Showcase--kami datang. Semua siswa-siswi yang terlibat sebagai peserta showcase berbaris menurut eskulnya masing-masing. Aku meminta temanku untuk menuntunku ke barisan. Aku sedih hanya bisa melihat sekitar yang jaraknya sangat terbatas. Mungkin hanya sekitar 1 meter.
Opening showcase dimulai. Pelatih showcase yang mengajari formasi showcase mulai memberikan aba-aba untuk mengangkat tangan kami. Lagu Tak Terkalahkan – Bondan Prakoso dimainkan oleh anggota Satu Musikku. Di barisan kedua dari belakang, aku mengangkat dan menggoyangkan tanganku ke atas seperti tarian kecak. Terik matahari yang membuat kulit peserta showcase menjadi gelap tak terasa bagiku. Begitu juga temanku, ia merasa senang kalau sedang latihan seperti ini. Walaupun lelah, kami tetap semangat menjalaninya.
Eskulku dan 2 eskul lainnya antara lain saman dan photography merupakan kelompok eskul pertama yang tampil. Eskulku yang bertema Jepang ini bergabung dengan eskul yang bertema Indonesia. Cukup aneh. Dan kami dibergabung untuk menampilkan suatu penampilan yang kreatif. Asal penampilan itu tak jauh dari tema pensi sekolah kami yaitu Perubahan. Di showcase ini, eskul ku akan menampilkan taiko dengan lagu Henshin yang arti judul lagu itu dalam Bahasa Indonesianya adalah Berubah. Taiko merupakan alat musik Jepang. Selain itu, eskul ku dan 2 eskul lainnya akan menampilkan gerakan yang diiringi lagu Gomen ne Summer dan Aitakatta.
Sebelum tampil, aku meminta temanku mengajariku taiko yang diiringi lagu Henshin dan Gomen ne Summer. Aku baru pertama kali latihan taiko seminggu yang lalu. Dan kini untuk kedua kalinya aku latihan. Jadi wajar saja aku belum terlalu hafal gerakannya. Aku hanya hapal gerakan taiko dengan lagu Aitakatta.
Baru saja temanku mengajarkan, sang pelatih showcase memanggil kelompok eskul kami untuk tampil di tengah lapangan. Aku mulai panik karena aku belum begitu hapal gerakan Henshin apalagi gerakan Gomen ne Summer. Jantungku berdegup kencang. Seluruh tubuhku dingin. Di sekitar lapangan ramai penonton yang terdiri dari peserta showcase. Mungkin ada sekitar 240-an peserta showcase tersebut.
Awalan lagu Henshin sudah terdengar. Aku berpasangan dengan temanku yang bernama Muti. Muti menyuruhku melihat gerakan teman disampingku kalau aku lupa gerakannya. Ku hanya bisa mengangguk. Sebenarnya aku tidak bisa melihat jelas teman disampingku yang berjarak sekitar 3 meter dari aku. Tubuhku yang kaku karena gugup tampil di tengah lapangan membuat penampilan eskul ku terlihat tidak kompak. Muti tersenyum agar aku tidak gugup. Ia juga membisikkan ku untuk mengikuti gerakannya.
Di lanjutkan lagu kedua yaitu Gomen ne Summer. Gerakannya beda lagi dengan lagu pertama, Henshin. Gerakan kedua ini yang benar-benar belum ku kuasai. Baru kali ini aku latihan sekalian tampil di tengah lapangan. Wajahku malu seakan ingin ditaruh ditempat tersembunyi.
Tak ku sadari, ada seorang lelaki yang melihatku dari awal ku tampil. Seorang lelaki itu berdiri di samping lapangan. Walau aku tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi wajahnya bisa ku kenali. Ya, seorang lelaki itu adalah seseorang yang aku cintai. Wajah teduhnya sering kali membuatku merasa bahagia karena dicintai oleh makhluk seindah dirinya. Dengan malu dan tersenyum, aku meliriknya dari tengah lapangan sambil menari dengan iringan lagu Gomen ne Summer. Banyak gerakan yang salah ku lakukan. Tetapi seseorang lelaki itu tetap memberikan aku semangat dengan senyumnya yang indah.
Selesai latihan tampil di tengah lapangan, aku dan teman satu eskulku duduk di bawah pohon. Seusai latihan tampat ini selalu jadi tempat kami berkumpul dan bermain. Kali ini kami akan bermain Truth or Truth. Adzan maghrib berkumandang dan langit pun mulai gelap. Aku makin tak bisa melihat sekitar dengan jelas.
Seorang lelaki tadi datang menghampiriku lalu mengajakku pulang. Teman-teman yang berkumpul denganku melihat ia tersenyum padaku lalu mereka menyorakkan kami berdua. Sorakkan tanda mengejek kami tak kami hiraukan. Dan kami berdua pun jalan melewati lorong-lorong gelap sekolah kami. Ia menuntunku sampai ke tempat penangkalan ojek. Ia tau bahwa aku tidak bisa melihat jalanan karena aku tak memakai kacamataku yang ketinggalan dirumah.
Aku berlalu meninggalkan pangkalan ojek tepat kini ia berdiri menungguku berlalu. Aku mengucapkan salam dan tersenyum padanya.
Eskulku dan 2 eskul lainnya antara lain saman dan photography merupakan kelompok eskul pertama yang tampil. Eskulku yang bertema Jepang ini bergabung dengan eskul yang bertema Indonesia. Cukup aneh. Dan kami dibergabung untuk menampilkan suatu penampilan yang kreatif. Asal penampilan itu tak jauh dari tema pensi sekolah kami yaitu Perubahan. Di showcase ini, eskul ku akan menampilkan taiko dengan lagu Henshin yang arti judul lagu itu dalam Bahasa Indonesianya adalah Berubah. Taiko merupakan alat musik Jepang. Selain itu, eskul ku dan 2 eskul lainnya akan menampilkan gerakan yang diiringi lagu Gomen ne Summer dan Aitakatta.
Sebelum tampil, aku meminta temanku mengajariku taiko yang diiringi lagu Henshin dan Gomen ne Summer. Aku baru pertama kali latihan taiko seminggu yang lalu. Dan kini untuk kedua kalinya aku latihan. Jadi wajar saja aku belum terlalu hafal gerakannya. Aku hanya hapal gerakan taiko dengan lagu Aitakatta.
Baru saja temanku mengajarkan, sang pelatih showcase memanggil kelompok eskul kami untuk tampil di tengah lapangan. Aku mulai panik karena aku belum begitu hapal gerakan Henshin apalagi gerakan Gomen ne Summer. Jantungku berdegup kencang. Seluruh tubuhku dingin. Di sekitar lapangan ramai penonton yang terdiri dari peserta showcase. Mungkin ada sekitar 240-an peserta showcase tersebut.
Awalan lagu Henshin sudah terdengar. Aku berpasangan dengan temanku yang bernama Muti. Muti menyuruhku melihat gerakan teman disampingku kalau aku lupa gerakannya. Ku hanya bisa mengangguk. Sebenarnya aku tidak bisa melihat jelas teman disampingku yang berjarak sekitar 3 meter dari aku. Tubuhku yang kaku karena gugup tampil di tengah lapangan membuat penampilan eskul ku terlihat tidak kompak. Muti tersenyum agar aku tidak gugup. Ia juga membisikkan ku untuk mengikuti gerakannya.
Di lanjutkan lagu kedua yaitu Gomen ne Summer. Gerakannya beda lagi dengan lagu pertama, Henshin. Gerakan kedua ini yang benar-benar belum ku kuasai. Baru kali ini aku latihan sekalian tampil di tengah lapangan. Wajahku malu seakan ingin ditaruh ditempat tersembunyi.
Tak ku sadari, ada seorang lelaki yang melihatku dari awal ku tampil. Seorang lelaki itu berdiri di samping lapangan. Walau aku tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi wajahnya bisa ku kenali. Ya, seorang lelaki itu adalah seseorang yang aku cintai. Wajah teduhnya sering kali membuatku merasa bahagia karena dicintai oleh makhluk seindah dirinya. Dengan malu dan tersenyum, aku meliriknya dari tengah lapangan sambil menari dengan iringan lagu Gomen ne Summer. Banyak gerakan yang salah ku lakukan. Tetapi seseorang lelaki itu tetap memberikan aku semangat dengan senyumnya yang indah.
Selesai latihan tampil di tengah lapangan, aku dan teman satu eskulku duduk di bawah pohon. Seusai latihan tampat ini selalu jadi tempat kami berkumpul dan bermain. Kali ini kami akan bermain Truth or Truth. Adzan maghrib berkumandang dan langit pun mulai gelap. Aku makin tak bisa melihat sekitar dengan jelas.
Seorang lelaki tadi datang menghampiriku lalu mengajakku pulang. Teman-teman yang berkumpul denganku melihat ia tersenyum padaku lalu mereka menyorakkan kami berdua. Sorakkan tanda mengejek kami tak kami hiraukan. Dan kami berdua pun jalan melewati lorong-lorong gelap sekolah kami. Ia menuntunku sampai ke tempat penangkalan ojek. Ia tau bahwa aku tidak bisa melihat jalanan karena aku tak memakai kacamataku yang ketinggalan dirumah.
Aku berlalu meninggalkan pangkalan ojek tepat kini ia berdiri menungguku berlalu. Aku mengucapkan salam dan tersenyum padanya.